Menangkap Gigi Palsu Cerpen Pendidikan

oleh
Cerpen Pendidikan Menangkap Gigi Palsu,cerpen pendidikan moral, cerpen pendidikan karakter, cerpen pendidikan lucu, cerpen pendidikan karakter anak bangsa, cerpen pendidikan moral di sekolah, cerpen pendidikan moral singkat, cerpen pendidikan karakter remaja, download cerpen pendidikan,
Menangkap Gigi Palsu

Cerpen Pendidikan Menangkap Gigi Palsu

Kejadian yang sulit dilupakan ini dialami kakak ipar saya, sebut saja Kang Danu, yang profesinya sebagai guru SMA di daerah TUBAN. Sebagai guru bahasa Inggris yang seka- ligus suka mengajar ngaji di rumah pada malam hari, pengucapan kata haruslah jelas dan jernih kedengarannya. Apalagi kalau menjadi imam shalat, salah pengucapan, bisa-bisa lain pula artinya. Tidak afdhol!

Dengan alasan itu, saya sebagai adiknya, pernah mengingatkan kakak ipar agar giginya yang ompong segera dibuatkan gigi palsu. Sebab, tidak tanggung-tanggung, ada tiga gigi yang sudah tanggal. Dua buah gigi geraham dan satu lagi ada di bagian agak depan yang sangat mengganggu pembicaraan.

Gigi gerahamnya terpaksa dicabut karena sering sakit gigi akibat keropos dan tidak bisa ditambal lagi. Sedangkan gigi yang depan tanggal karena ia terjatuh dari motor saat melindas batu terjal di jalanan.

Sejak itu saya menganjurkan agar Kang Danu pasang gigi palsu. Tapi Kang Danu tidak mau; repot dan tidak leluasa katanya. Padahal tanpa gigi yang lengkap justru lebih repot lagi. Makanan yang dikunyah menjadi kurang sempuma, dan bila lupa kemasukkan makanan yang keras, aduh… bukan main gusi sa- kitnya.
Selang tiga bulan kemudian, tepatnya seminggu menjelang lebaran, istri Kang Danu yang adalah kakak saya tahu-tahu menelepon. Katanya, Kang Danu sudah pasang gigi palsu di sekolah. Saya tidak habis pikir, pasang gigi palsu di sekolah, bagaimana ini?

Dua hari menjelang lebaran, sebagaimana biasa kami kumpul di kampung.Rumah luarga yang besar, sudah penuh sesak. De- lapan kamar tidur yang tersedia terisi semua. Keluarga yang datang belakangan, terpaksa harus bergabung kamar dan tidur menggelar tikar di ruang tengah yang sekaligus berfungsi sebagai aula keluarga.
Usai buka puasa terakhir dan shalat Mag- rib, para bapak-bapak dan remaja putera kumpul di beranda depan berbincang-bincang sambil menikmati kolak pisang tanduk yang cakial. Percakapan kami dari soal politik, ekonomi, pendidikan, hingga akhirnya sam- pai pada masalah gigi palsu Kang Danu yang masih baru.
Saat menyinggung soal gigi palsu, Kang Danu malah mengeluh. “Wah… akang malah merasa kurang nyaman Cep,” keluhnya. Me- mang, kalau diperhatikan benar, cara Kang Danu bicara menjadi kurang alami, seperti sedang mengulum permen saja.

Ketika keponakan membawa suguhan tambahan berupa uli goreng yang wangi, Kang Danu hanya berani melirik saja, se- mentara kami-kami berebut menyerbunya. Hanya sebentar uli goreng di piring itu pun tandas, namun sesaat kemudian sudah diisi lagi. Kali ini Kang Danu rupanya tergoda un- tuk mencoba. Diambilnya satu potong dan digigitnya pelan-pelan sambil mengobrol.

Saya perhatikan benar tingkahnya. Belum lagi dua gigitan tiba-tiba, “adult..!,” Kang Danu mengaduh, membuat kami semua ka- get. Mata Kang Danu berkaca-kaca, dan ke- dua tangannya menutup mulut. “Sial, gigi baru ini slip,” ujarnya sejenak kemudian. Saya ingin tertawa, tapi tidak tega juga. Kang Danu lalu membetulkan letak gigi palsunya.

Saat sama-sama makan pagi sepulang shalat led, gigi Kang Danu berulah lagi. Kali ini, saking asyiknya makan, Kang Danu tidak sadar kalau gigi palsunya copot dan ter- kunyah. Dikiranya ada batu atau tulang kambing yang tergigit. Tahu-tahu saat dike- luarkan, wah gigi palsu! Kami semua di- buatnya tertawa hingga keluar air mata. Apa- lagi sewaktu gigi depannya loncat ke meja saat dipakai menggigit gule kikil. Kang Danu berusaha menangkap giginya yang terpental ke meja, sementara di mulutnya tergantung sepotong gule kikil.

Kejadian yang paling mengagetkan terjadi pada esok harinya. Saat Lebaran, kami me- mang suka dulu-duluan bangun agar bebas mandi pagi, mengguyurkan air yang sejuk dan jernih. Tapi, belum lagi pukul empat, kami terbangun dikagetkan oleh jeritan ke- takutan di kamar mandi. Shanti (12) yang baru mau mandi, tiba-tiba menjerit kalap dan
menghambur ke luar. “Ada taring menye- ringai di gelas … iyy…” Shanti pucat dan menggigil ketakutan.
Setelah diberi minum dan agak tenang, Shanti berceritera. Katanya, saat memasuki kamar mandi, ia lihat di pinggir bak ada gelas berisikan sesuatu. Saat diperhatikan dan diangkat, ternyata sebuah taring bergusi me- rah. “liyy..” katanya.

Tapi tiba-tiba Kang Danu menyeruak. “Wah, itu pasti gigi Om. Sudah pusing Om mencarinya dari tadi,” ujarnya sambil ber- gegas ke kamar mandi untuk mengambil gigi palsunya. Ada-ada saja polah Kang Danu. Gigi palsu buatan amatiran, ternyata bikin banyak persoalan.Xjodo.com